Tradisi Ziarah Turut Kijing, Rekomendasi Wisata Religi Jogja dan Klaten untuk Perjalanan Rombongan
Tradisi ziarah makam ulama atau yang dikenal dengan istilah Turut Kijing menjadi salah satu kegiatan wisata religi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Selain menjadi sarana mengenang perjuangan para ulama terdahulu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan nilai spiritual, serta mengenal sejarah perkembangan Islam di berbagai daerah.
Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Forum Komunikasi (Forkom) Rois Kalurahan Condongcatur, Kabupaten Sleman, pada Sabtu, 31 Oktober 2026. Sebanyak 42 peserta mengikuti perjalanan wisata religi ke sejumlah makam ulama di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, hingga Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menariknya, kegiatan tersebut diberi nama "Turki", singkatan dari Turut Kijing, yang berarti berkunjung atau berziarah ke makam para ulama dan tokoh agama untuk mengenang jasa serta mengambil hikmah dari perjuangan mereka.
Mengenal Tradisi Turut Kijing dalam Wisata Religi
Bagi sebagian masyarakat Jawa, ziarah makam ulama bukan sekadar perjalanan mengunjungi tempat peristirahatan terakhir seseorang. Tradisi ini juga menjadi bagian dari upaya mengenal sejarah, menghormati jasa tokoh agama, serta mengambil pelajaran dari perjuangan mereka dalam menyebarkan ilmu dan nilai-nilai keagamaan.
Kegiatan Turut Kijing biasanya dilakukan secara berkelompok, baik oleh keluarga, komunitas pengajian, organisasi keagamaan, maupun rombongan masyarakat.
Melalui perjalanan tersebut, peserta dapat mengunjungi beberapa makam ulama dalam satu rangkaian perjalanan, melaksanakan doa bersama, mengikuti tahlil, serta mengenal lebih dekat sejarah tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi bagi masyarakat.
Rekomendasi Destinasi Wisata Religi di Klaten dan Sekitarnya
Kabupaten Klaten memiliki sejumlah lokasi yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam dan perjuangan para ulama. Beberapa destinasi berikut dapat menjadi referensi untuk perjalanan wisata religi bersama rombongan.
1. Makam KH Muslim Rifa'i Imampuro (Mbah Liem)
Makam KH Muslim Rifa'i Imampuro atau yang lebih dikenal sebagai Mbah Liem berada di kawasan Trasan, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten.
Beliau dikenal sebagai ulama yang memiliki kontribusi dalam pendidikan agama dan kegiatan dakwah melalui Pondok Pesantren Al-Muttaqien.
Mengunjungi makam Mbah Liem dapat menjadi kesempatan bagi rombongan untuk mengenang perjuangan beliau dalam mengembangkan pendidikan Islam serta meneladani nilai persaudaraan dan kerukunan masyarakat.
2. Makam Syekh Joko (Ki Ageng Kaligawe)
Destinasi berikutnya adalah makam Syekh Joko atau Ki Ageng Kaligawe yang berada di kawasan Kaligawe, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten.
Lokasi ini menjadi salah satu tujuan ziarah dalam rangkaian kegiatan Turut Kijing Forkom Rois Condongcatur.
Kunjungan ke makam tokoh agama dan ulama setempat dapat menjadi bagian dari perjalanan mengenal sejarah serta tradisi keagamaan masyarakat Klaten.
3. Makam KH Muhammad Manshur (Mbah Manshur) di Popongan
Kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan di Desa Tegalgondo, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, menjadi salah satu tujuan wisata religi yang menarik untuk dikunjungi.
Tempat ini berkaitan erat dengan sosok KH Muhammad Manshur atau Mbah Manshur, pendiri Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan sekaligus tokoh pengembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah.
Sejarah pesantren mencatat bahwa pembangunan pondok dimulai pada 1926 dan dilanjutkan dengan pembangunan Masjid Al-Manshur pada 1927.
Destinasi ini cocok menjadi salah satu bagian dari perjalanan ziarah sekaligus mengenal sejarah pendidikan Islam di wilayah Klaten.
4. Makam Pangeran Purboyo di Wotgalih, Sleman
Tidak hanya di Klaten, perjalanan wisata religi juga dapat dilanjutkan menuju kawasan Wotgalih, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.
Kompleks makam Pangeran Purboyo menjadi salah satu tujuan dalam rangkaian perjalanan Turut Kijing yang dilakukan oleh rombongan Forkom Rois Condongcatur.
Lokasi ini dapat menjadi alternatif tujuan perjalanan religi bagi masyarakat yang ingin mengenal lebih jauh tokoh-tokoh bersejarah di wilayah Yogyakarta.
Rekomendasi Perjalanan Wisata Religi dari Jogja ke Klaten
Bagi masyarakat yang ingin mengadakan kegiatan ziarah bersama keluarga, kelompok pengajian, maupun organisasi keagamaan, perjalanan wisata religi dapat direncanakan dengan menggabungkan beberapa destinasi dalam satu rute.
Salah satu referensi rute perjalanan yang dapat dipertimbangkan adalah:
Keberangkatan dari wilayah Yogyakarta atau Sleman.
Singgah di Masjid Agung Al-Aqsha Klaten.
Ziarah ke makam Mbah Liem di Karanganom.
Melanjutkan perjalanan ke makam Ki Ageng Kaligawe di Pedan.
Mengunjungi kompleks Pondok Pesantren Al-Manshur Popongan.
Melanjutkan perjalanan menuju kawasan Wotgalih, Berbah, Sleman.
Urutan perjalanan tersebut merupakan referensi berdasarkan rangkaian kegiatan Turut Kijing pada Oktober 2026. Pelaksanaan perjalanan dapat disesuaikan dengan titik keberangkatan, kondisi lalu lintas, waktu kunjungan, dan kesepakatan rombongan.
Agar perjalanan berjalan lebih nyaman, panitia sebaiknya mempersiapkan jadwal keberangkatan, jumlah peserta, daftar destinasi, serta kebutuhan transportasi sejak awal.
Tips Mengadakan Wisata Ziarah Bersama Rombongan
Wisata religi biasanya melibatkan banyak peserta dengan kebutuhan perjalanan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perencanaan transportasi menjadi salah satu hal penting yang perlu diperhatikan.
Berikut beberapa tips untuk mempersiapkan perjalanan ziarah:
1. Tentukan destinasi dan rute perjalanan
Pilih lokasi makam ulama yang ingin dikunjungi dan susun urutan perjalanan agar waktu tidak banyak terbuang di jalan.
2. Sesuaikan armada dengan jumlah peserta
Pastikan kapasitas bus sesuai dengan jumlah anggota rombongan agar seluruh peserta dapat melakukan perjalanan dengan nyaman.
3. Siapkan jadwal keberangkatan
Buat jadwal perjalanan yang realistis, termasuk waktu istirahat, ibadah, makan, dan kunjungan ke setiap destinasi.
4. Koordinasikan kebutuhan rombongan
Tentukan koordinator perjalanan yang bertanggung jawab mengatur peserta, komunikasi, dan kebutuhan selama perjalanan.
5. Pilih transportasi yang nyaman
Menggunakan bus pariwisata dapat menjadi pilihan praktis untuk perjalanan ziarah bersama keluarga besar, kelompok pengajian, maupun organisasi karena peserta dapat berangkat dan melakukan perjalanan bersama.
Bregodo Bus, Teman Perjalanan Wisata Religi dan Ziarah Rombongan
Merencanakan perjalanan wisata religi bersama banyak peserta tentu membutuhkan transportasi yang nyaman dan sesuai kebutuhan rombongan.
Bregodo Bus Yogyakarta hadir sebagai pilihan transportasi untuk berbagai kebutuhan perjalanan, mulai dari wisata religi, ziarah makam ulama, wisata keluarga, study tour, gathering perusahaan, hingga perjalanan wisata antarkota.
Dengan pilihan armada bus pariwisata yang dapat disesuaikan dengan jumlah peserta dan kebutuhan perjalanan, Bregodo Bus siap menjadi teman perjalanan rombongan Anda.
Apabila Anda sedang merencanakan perjalanan ziarah dari Yogyakarta menuju Klaten, Magelang, Demak, Kudus, maupun destinasi wisata religi lainnya, persiapkan perjalanan bersama Bregodo Bus.
Hubungi Bregodo Bus untuk konsultasi kebutuhan sewa bus pariwisata Jogja dan rencanakan perjalanan rombongan Anda dengan lebih nyaman.
Website: https://bregodobus.com/
Penutup
Tradisi Turut Kijing menjadi pengingat bahwa perjalanan wisata religi bukan hanya tentang mengunjungi berbagai tempat, tetapi juga mengenal sejarah, menghargai perjuangan para ulama, dan mempererat hubungan antarsesama.
Dengan perencanaan perjalanan yang baik dan dukungan transportasi yang sesuai, kegiatan ziarah bersama keluarga, komunitas, maupun organisasi dapat menjadi pengalaman yang lebih nyaman, terarah, dan bermakna.
Panduan & berita
Wisata Religi Jogja dan Klaten: Tradisi Ziarah Turut Kijing
Tradisi ziarah makam ulama atau yang dikenal dengan istilah Turut Kijing menjadi salah satu kegiatan wisata religi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Selain menjadi sarana mengenang perjuangan para ulama terdahulu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat silaturahmi, meningkatkan nilai spiritual, serta mengenal sejarah perkembangan Islam di berbagai daerah.
